Membaca sejarah kehadiran musik jazz di dunia, tentunya seperti
mendengar berbagai penggal cerita yang agak sulit bagi kita untuk
mengetahui mana cerita yang sebenarnya. Karena banyak sekali sekelumit
kisah tentang awal musik jazz. Salah satunya adalah Buddy Bolden.
Seorang pemilik kedai cukur rambut di New Orleans, dapat dikaitkan
dengan sejarah keberadaan musik jazz di dunia. Dimana sekitar tahun
1891, salah satu orang yang dipercaya sebagai legenda jazz ini meniupkan
cornet-nya (sejenis alat musik tiup mirip terompet) sebagai pertanda
dikumandangkannya musik jazz ke seluruh antero jagat. Meskipun sejarah
mengatakan bahwa latar belakang kehadiran musik jazz sedikit banyak
dipengaruhi berbagai musik seperti musik spiritual, cakewalks, ragtime dan blues.
Musik jazz pun menjadi semakin menarik karena beberapa sejarah
mengatakan bahwa asal kata “jazz” berawal dari sebuah istilah vulgar
yang berkaitan dengan aksi seksual. Sebagian irama musik jazz pun
identik dengan rumah-rumah bordil dengan para wanita penghuninya.
Fotografi yang dilahirkan ke jagat raya sejak tahun 1839 oleh Louis
Jacques Mande Daguerre, setidaknya dapat menaruh harapan khususnya pada
catatan perkembangan sejarah musik jazz itu sendiri. Setidaknya sebagai
catatan visual dan media informasi yang gampang dicerna bagi komunitas
jazz. Misalnya saja sebagai bahan untuk melacak citra foto pertama
tentang jazz di dunia. Memang sulit untuk mengatakan karya foto mana
yang menjadi citra pertama di dalam dunia musik jazz. Tetapi bukan tidak
mungkin bahwa kita dapat melacaknya dari karya-karya foto para
fotografer jazz dunia semisal William Gottlieb yang mulai memotret
musisi jazz ternama seperti Duke Ellington, Louis Armstrong, Frank
Sinatra, Dizzy Gillespie dan Billie Holiday sejak tahun 1938. Lalu ada
nama Herman Leonard yang banyak memotret tokoh-tokoh jazz seperti
Charlie Parker, Sarah Vaughan, Lena Horne, Thelonius dari tahun 1940.
Atau William Claxton yang mulai berkarya merekam aksi para musisi jazz
legendaris seperti Chet Baker, Miles Davis, Nat King Cole, Joe Williams,
Dinah Washington sejak tahun 1950. Tentunya dibutuhkan penelitian yang
serius untuk melacak sejarah tersebut.
Barangkali dengan paparan itu pula ada sebuah gagasan untuk mencatat
perkembangan sejarah musik jazz di indonesia. Dimana fotografi dapat
menjadi sebuah medium untuk menghadirkan kembali citra tentang romantika
dan perjalanan musik jazz. Seperti yang disuguhkan oleh Mia Damayanti
Sjahir dalam Pameran Fotonya yang bertajuk Jazz – Poster & Post It
di Potluck Coffee Bar & Library dari tanggal 11 Juli 2010 s/d 7
Agustus 2010. Pameran foto ini dikuratori oleh Dwi Cahya Yuniman,
seorang pendiri klab jazz plus aktivitis jazz asal Kota Bandung.
Uniknya, foto-foto yang dipamerkan tersebut tidak hanya mengisi
tembok-tembok kosong yang disoroti lampu belaka. Melainkan ada beberapa
foto yang sengaja ditampilkan untuk mengisi dan menjadi bagian estetika
perabotan di tempat pameran itu digelar. Toples, bingkai kecil di rak
buku, tempat cashier, dan sebagainya menjadi aksen bagi keutuhan
pameran tersebut. Tentunya kita semua berharap bahwa pada suatu saat
nanti, karya-karya foto tentang jazz ini dapat menjadi sebuah buku yang
dapat meninggalkan jejak karya dan dapat dibagikan bagi masyarakat
agar peradaban musik jazz terus mengalir seiring dengan dunia yang
terus berputar tanpa henti.
copy of - wordpress.com
