Siapa yang tidak tahu gosip? Apakah kita sendiri pernah bergosip ria?
Adakah sesuatu yang salah dari tindakan atau perilaku semacam itu?
Bukankah gosip wajar dilakukan sejauh ia dipahami sebagai bagian dari
status kita sebagai manusia?
Oxford Dictionary mendefinisikan gosip sebagai “casual or
unconstrained conversation or reports about other people, typically
involving details that are not confirmed as being true.” Per definisi,
gosip menegaskan beberapa hal penting yang menandai karakter kita
sebagai manusia: percakapan atau informasi yang tak-terbatas mengenai
orang lain. Percakapan atau obrolan selalu mengenai hal-hal yang
kebenarannya belum dikonfirmasi apakah benar atau salah. Hal penting
lainnya yang perlu ditambahkan adalah bahwa obrolan atau percakapan itu
terjadi tanpa kehadiran orang yang sedang menjadi subjek pembicaraan
tersebut.
Gosip dapat dikaji dari berbagai perspektif. Ada kajian antropologis
atau sosiologis yang menegaskan bahwa dalam arti tertentu, gosip
dibutuhkan masyarakat sebagai pemersatu relasi sosial. Gosip dapat
menjadi sarana edukasi ketika karakter tokoh-tokoh tertentu dikisahkan
secara berlebihan sebegitu rupa untuk menimbulkan kekaguman dan imitasi.
Sementara gosip mengenai kelemahan lawan dapat membangkitkan keberanian
dan harga diri diri anggota komunitas dalam persaingan antarkomunitas.
Gosip juga dapat dimaknakan secara filosofis. Kajian etika sendiri –
terutama dari perspektif deontologi – menegaskan bahwa tindakan
menggosip orang lain sama saja dengan memperlakukan orang lain sebagai
alat untuk mencapai tujuan-tujuan individu. Dalam arti itu, benarlah
yang dikatakan Margareth Holland (“What’s Wrong with Telling the Truth?
An Analysis of Gossip” dalam Americal Philosophy Quarterly, Vol. 33, No.
2, April 1996, hlm. 206), bahwa ada alasan moral untuk menghentikan
atau tidak berpartisipasi dalam gosip ketika kita menyadari sepenuhnya
“kaidah emas” yang memerintahkan kita untuk memperlakukan orang lain
sebagaimana kita ingin diperlakukan. Selain itu, gosip tetap bisa
diposisikan sebagai tema refleksi fenomenologis-filosofis, misalnya dari
sudut pandang obrolan dan kejatuhan manusia otentik dalam das Mann
sebagaimana dikemukakan Martin Heidegger.
Tulisan ini mencoba meneropong gosip dari sudut pandang filsafat
Kristiani. Karena tema tulisan ini begitu dekat dengan nilai-nilai
Kristianitas, tulisan ini sebenarnya dapat juga dipahami sebagai semacam
spiritualitas kritis atas nilai-nilai Kristianitas mengenai gosip itu
sendiri. Untuk kepentingan tulisan ini, penulis sangat berutang budi
pada karya Thomas Aquinas dalam Summa Theologica, II-II Q. 73,Art. 2.
Bahaya Kata-kata
Sebuah kisah datang tradisi filsafat Socrates. Sang filsuf dan guru
kehidupan yang sangat dihormati ini suatu ketika kedatangan seorang tamu
yang adalah sahabatnya sendiri. Kepada Socrates, sang tamu itu berkata,
“Tahukah Anda apa yang baru saja aku dengar mengenai para sahabatmu?”
Socrates menjawab, katanya, “Tahan sekejab. Sebelum Anda memberitahu
kepadaku mengenai sahabat-sahabatku, bagus jika kita berdiam diri
sejenak dan menyaring terlebih dahulu apa yang ingin kita katakan.
Itulah sebabnya saya menyebutnya sebagai ‘tes penyaringan berlapis
tiga’. Lapis pertama adalah Kebenaran. Apakah Anda yakin betul bahwa apa
yang akan Anda katakan kepadaku adalah sebuah kebenaran?”
“Tidak juga,” jawab sang tamu itu. “Aku hanya mendengarnya dari orang lain dan ….”
Sebelum melanjutkan kata-katanya, Socrates memotong, “Baiklah! Jadi
Anda tidak tahu persis apakah yang akan Anda katakan itu benar atau
salah. Sekarang marilah kita terapkan penyaringan lapis kedua, yakni
lapis Kebaikan. Apakah yang akan Anda katakan kepada saya adalah hal
mengenai kebaikan sahabat saya?”
Sang tamu itu tampak tersipu-sipu lalu menjawab, “Emmmmm, tidak. Justru sebaliknya!”
Socrates pun menjawab, “Jadi Anda sebenarnya mau mengatakan sesuatu
kepada saya mengenai sahabat saya tetapi Anda sendiri tidak bisa
memastikan apakah itu suatu Kebenaran atau tidak. Dan yang akan Anda
katakan itu bukanlah suatu Kebaikan mengenai sahabat saya. Mungkin saja
Anda bisa melewati tes ini karena masih ada satu lagi penyaringan, yakni
Kebermanfaatan. Apakah informasi yang ingin Anda beritahukan kepada
saya mengenai sahabat saya itu akan bermanfaat bagi saya?”
“Tidak, sama sekali tidak!” jawab sang tamu itu.
“Baiklah,“ Socrates menyimpulkan, “Jika apa yang akan Anda katakan
itu tidak mengandung kebenaran, tidak mengandung kebaikan, dan tidak
bermanfaat, mengapa Anda ingin sampaikan kepadaku?” (Kisah diambil dari http://www.inspirationpeak.com/cgi-bin/stories.cgi?record=150, akses: 6 Februari 2014).
Mengapa ketiga ketiga syarat sebagaimana dikemukakan Socrates itu
harus dipenuhi ketika kita membicarakan orang lain tanpa kehadiran
dirinya? Memenuhi ketiga tuntutan itu sama artinya dengan tidak
melibatkan diri dalam setiap upaya gosip-menggosip. Apakah manusia
memang harus mencegah dirinya memasuki situasi yang memungkinkan
terjadinya gosip? Jika disebut sebagai bagian dari hakikat alamiah
manusia, mengapa manusia harus mencegah dirinya menggosip sesamanya?
Kata-kata yang keluar dari mulut kita ternyata bagai pedang bermata
dua. Dia bisa menginspirasi, membangkitkan dan mendorong perubahan dan
pertumbuhan manusia. Tetapi dia juga bisa menghancurkan. Kata-kata
bahkan lebih mematikan daripada pedang, terutama ketika itu diungkapkan
sebagai fitnah.
Dalam artikel pertama dari pertanyaan 73 dalam Secunda Secundae,
Thomas Aquinas mengatakan bahwa gosip itu fitnah (backbiting).
Melibatkan diri dalam gosip atau mendengar gosip, dalam iman Katolik,
dikategorikan sebagai dosa ringan (venial sin). Menanggalkan terlebih
dahulu perdebatan seputar gosip dan dosa, Thomas Aquinas berusaha
menunjukkan secara rasional, mengapa gosip yang adalah fitnah itu harus
dihindari. Sebagaimana lazim dalam cara berfilsafat Thomistik, sang
filsuf pertama-tama menolak pandangan umum yang menolak fitnah sebagai
salah (dan dosa). Menurut Thomas Aquinas, mereka yang membela fitnah
sebagai tindakan yang salah umumnya mendasarkan diri pada dua alasan
utama. Pertama, jika fitnah – per definisi – adalah membicarakan
keburukan dan merusak nama baik orang secara rahasia, ini tidak memenuhi
syarat kerahasiaan, karena memfitnah seseorang pasti dilakukan di
hadapan para pendengar. Dalam arti itu, tindakan memfitnah memiliki
dimensi kepublikan sehingga bertentangan dengan definisi kata “fitnah”
itu sendiri.
Kedua, sehubungan dengan fitnah sebagai upaya merusak dan
menghancurkan reputasi atau nama baik seseorang, pengertian ini pun
harus ditolak. Sesuatu disebut sebagai reputasi atau nama baik
mengandaikan rekognisi dan akseptasi publik. Karena itu, usaha
menghancurkan nama baik tidak bisa tidak dilakukan secara publik.
Thomas Aquinas berpendapat bahwa kedua posisi ini tidak bisa
diterima. Mereka yang menolak gosip dan fitnah sebagai sesuatu yang
buruk lupa bahwa merusak dan menghancurkan orang lain itu dapat terjadi
dalam dua cara, yakni secara terbuka dan langsung (seperti tindakan
seorang perampok yang merebut nama baik seseorang secara frontal) dan
secara tidak langsung (seperti tindakan seorang pencuri yang tidak
memberitahu terlebih dahulu kapan dia datang). Bagi Thomas Aquinas,
gosip dan fitnah adalah upaya merusak nama dan harga diri seseorang yang
disebarkan melalui kata-kata, diucapkan secara tertutup dan rahasia
(tanpa kehadiran korban). Tindakan ini buruk pada dirinya sendiri karena
intensi penggosip adalah merendahkan dan menghancurkan korbannya
melalui upaya meyakinkan lawan bicaranya bahwa apa yang dibicarakannya
mengenai orang lain itu mengandung kebenaran. Tujuan akhir yang hendak
dicapai penggosip adalah menciptakan kesan dan opini yang buruk dari
orang lain (pendengar) mengenai korban gosip.
Berbeda dengan tindakan merusak dan mengahancurkan orang lain secara
terbuka (posisi yang dibela para pendukung gosip), gosip dan fitnah
memiliki kadar moralitas yang jauh lebih buruk. Menyerang dan
menghancurkan orang secara terbuka (Thomas Aquinas menyebutnya sebagai
“mencaci maki” atau reviling), meskipun berpengaruh pada kehormatan
(honor) seseorang, sang korban memiliki kesempatan untuk membela diri.
Tidak demikian dengan menggosip dan memfitnah orang. Korban yang
difitnah tidak hanya kehilangan harga dirinya (honor), tetapi juga nama
baiknya (good name). Mengapa nama baik (good name) sangat ditonjolkan
oleh Thomas Aquinas dalam refleksi filosofis dan teologisnya mengenai
gosip dan fitnah? Bagi dia, memiliki nama baik jauh lebih berharga dari
harta dan kekayaan apa pun; bahwa ketiadaan nama baik justru menyulitkan
seseorang dalam melakukan banyak hal secara baik. Padahal, menjadi baik
secara moral – mengikuti Aristoteles – adalah bertindak sebagai orang
yang berkeutamaan dengan merealisasikan seluruh potensialitas diri.
Menjadi orang yang tersakiti karena fitnah akan menghalangi seseorang
dari merealisasikan seluruh potensialitas dirinya itu.
Lebih dari Sekadar Larangan
Di sinilah kita mengerti dengan baik maksud kata-kata Socrates dalam
dialog di atas. Bahwa menggosip atau memfitnah seharusnya dihindari
karena tidak mengandung kebenaran, tidak membawa kebaikan, dan tidak
bermanfaat. Implikasi moralnya amat jelas: relasi antarsesama dan
persahabatan seharusnya dibangun di atas kebenaran dalam arti saling
menerima apa adanya. Bahwa setiap orang saling mengisi dalam kekurangan
dan kelebihannya. Bahwa kebenaran dalam arti itu akan membawa kebaikan
bagi kita, dan kebaikan itulah manfaat dari relasi itu sendiri.
Belajar dari Santo Thomas, kita harus mengatakan tidak untuk gosip
dan fitnah. Tindakan semacam itu tidak hanya melawan cinta kasih, tetapi
juga keadilan. Cinta kasih adalah dasar persahabatan Kristiani.
Radikalitas cinta kasih Kristiani justru terletak pada kesediaan
menerima dan mengasihi orang lain, bahkan musuh sekalipun. Sementara
keadilan adalah imperatif moral untuk memperlakukan orang lain sama
seperti seseorang ingin diperlakukan.
Gosif dan fitnah ibarat pisau amat tajam yang siap menghancurkan
relasi sosial kita. Maka membiarkan gosip dan fitnah tetap eksis sama
saja dengan mengizinkan pedang teramat tajam itu mengiris dan
mengancurkan persahabatan kita. Dan kita tidak mau seperti itu, bukan?[]
referensi - http://jeremiasjena.wordpress.com/2014/02/25/tajamnya-pisau-gosip/
